https://new.kbi-indonesia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_9199-1024×683.jpg
DEPOK, 9 April 2026 – Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI) bersama Research Centre for Biomass Valorization Universitas Indonesia (RCBV-UI) telah sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) tingkat nasional bertajuk “Scoping Study on Engineering Biology in ASEAN”. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari studi regional yang didukung oleh Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO) – Pemerintah Inggris, yang bertujuan untuk memetakan kesiapan dan arah kebijakan Engineering Biology (EB) di kawasan Asia Tenggara.
Studi ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Universiti Putra Malaysia (UPM) sebagai koordinator regional dan RCBV-UI sebagai representatif resmi untuk Indonesia. Inisiatif FCDO-UK ini dilatarbelakangi oleh pengakuan global terhadap Engineering Biology sebagai teknologi transformatif yang mampu menjawab tantangan ketahanan pangan, transisi energi, dan keberlanjutan lingkungan. Melalui studi ini, Indonesia diharapkan dapat menyelaraskan potensi sumber daya hayatinya dengan standar inovasi global.
https://new.kbi-indonesia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_9195-1024×683.jpg
Metodologi dan Partisipasi Multi-Stakeholder
Kajian di Indonesia dilakukan melalui dua tahap terstruktur: Key Informant Survey (KIS) dengan para pengambil kebijakan tingkat tinggi dan FGD multi-pemangku kepentingan. Acara ini dihadiri oleh 27 pakar terpilih yang mewakili empat pilar inovasi:
- Pemerintah: Termasuk perwakilan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta BRIN.
- Akademisi/Peneliti: Pakar dari berbagai universitas terkemuka seperti UI, ITB, IPB, dan UGM.
- Industri: Perwakilan dari sektor biofarmasi, energi, dan agribisnis.
- Lembaga Pendanaan: Lembaga seperti BPDP Sawit yang berperan dalam hilirisasi riset.
Temuan Utama: Potensi Besar di Balik Fragmentasi
Laporan studi mengungkapkan bahwa meskipun Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa megabiodiversitas dan biomassa yang melimpah, ekosistem EB saat ini masih bersifat muncul namun terfragmentasi (emerging but fragmented). Beberapa poin kritis yang dihasilkan dari diskusi meliputi:
- Ambiguitas Konseptual: Belum adanya definisi formal mengenai Engineering Biology dalam kerangka kebijakan nasional menyebabkan ketidakkonsistenan koordinasi antar-lembaga.
-
Sektor Prioritas Nasional: Terdapat kesepakatan kuat untuk memfokuskan pengembangan pada tiga sektor utama: Pangan dan Pertanian (biopestisida, pemuliaan tanaman), Energi dan Bahan Bakar Nabati (bioetanol, konversi biomassa), serta Lingkungan (pengolahan limbah menjadi nilai tambah).
- Kesenjangan Transmisi Riset: Teridentifikasi adanya “Valley of Death” di mana banyak hasil riset laboratorium gagal mencapai skala industri karena keterbatasan fasilitas scale-up (pilot plant) dan skema pendanaan yang belum sepenuhnya berorientasi pasar.
Rekomendasi Kebijakan dan Langkah Strategis
Sebagai hasil akhir, FGD ini merumuskan sejumlah rekomendasi kebijakan strategis yang akan disusun menjadi Indonesia Country Policy Brief:
-
Strategi Nasional EB: Mendesak perlunya peta jalan (roadmap) nasional yang terintegrasi dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN 2025–2045).
-
Pusat Fasilitas Scale-up: Pembangunan infrastruktur bersama yang dapat diakses oleh peneliti dan industri untuk memvalidasi teknologi di skala pilot.
-
Reformasi Pendanaan: Mendorong skema Kemitraan Pemerintah dan Swasta (PPP) serta insentif bagi investasi sektor privat pada teknologi berisiko tinggi.
-
Talenta Siap Industri: Penyesuaian kurikulum pendidikan tinggi yang menggabungkan biologi molekuler dengan prinsip rekayasa dan kecerdasan buatan (AI).
- Efisiensi dan Adaptabilitas Regulasi: Mengharmonisasi kerangka regulasi dan menyederhanakan perizinan antar-lembaga untuk mengakomodasi teknologi baru sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap standar keamanan hayati dan etika.
https://new.kbi-indonesia.id/wp-content/uploads/2026/04/top-5-policy-1024×683.png
Sebagai mitra strategis, KBI berkomitmen untuk terus menjembatani komunikasi antara peneliti dan industri guna memastikan inovasi bioteknologi dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Hasil dari diskusi ini akan disusun menjadi Indonesia Country Policy Brief yang akan dipresentasikan pada tingkat regional ASEAN.